Facebook Haram?
Mei 26, 2009
Jimmy temanku merasakan sakit giginya kambuh lagi. Tapi ini lebih sakit dari sebelumnya. Jadi ia berniat menemui dokter gigi hari itu juga. Buat dokter, masalah itu sangat sepele. Dengan satu tojos suntikan bius dan satu congkelan, gigi pun tanggal dari gusi.
Lalu Dokter bilang, "Gigi kamu yang sakit ini ada lubangnya!" Tapi seorang Jimmy menolak mentah mentah diagnosis dokter itu. Ia bilang, "Kamu pasti salah dok. Yang benar adalah, ada lubang yang yang dikelilingi gigi!". Mereka lalu berdebat mengenai masalah itu hingga akhirnya sang Dokter terpaksa memveto. "Kamu harus menerima diagnosis saya, setuju atau tidak, karena dokter lah yang berhak mengeluarkan fatwa." Dengan hati dongkol Jimmy pun menyerah.
Lalu tersiarlah kabar yang menghebohkan itu dari televisi di ruang tunggu, Facebook Haram!
Bagai petir di siang bolong. Menghebohkan.
Lalu Jimmy mengangguk angguk dan setuju dengan Fatwa itu. Ia berkomentar panjang lebar kepada Dokter, memang Facebook sudah sepantasnya diblokir. Facebook membuat terlena, buang buang waktu, membuat anaknya malas mengerjakan PR, banyak kebohongan, menebar perselingkuhan. Ia lalu menyebutkan daftar seribu alasan kenapa Facebook diharamkan. Ia menambahkan catatan, ia pernah memergoki isteri ketiganya yang juga doyan chatting sedang selingkuh dengan pria India dikamarnya. Dokter yang faham tentang teori penyerbukan, menjelaskan tidak akan terjadi pembuahan jika prianya berada di Bombay, sedang isterinya di Leuwiliang.
Dokter tidak setuju semua alasan Jimmy, ia menjelaskan betapa penting facebook buat peradaban. Bisa menghubungkan manusia antar benua. Ia menyebut contoh, Asep anak Sukabumi bisa mengiklankan sepatu buatannya dengan facebook, Si Amat orang Medan bisa menemukan saudaranya yang hilang dari facebook dan si Ibrahim anak Gorontalo bisa lancar berbahasa Inggeris berkat kontak langsung dengan native speaker. Dokter itu mengungkapkan seribu fakta bahwa facebook seharusnya tidak diharamkan.
Keduanya lalu berdebat sengit dan tidak ada yang bisa membuktikan yang lain salah.
Tidak jelas siapa yang mulai, akhirnya terjadilah pergumulan itu. Tendangan dan tinju melayang diudara. Perdebatan ilmiah itu kini telah bercampur seni beladiri. Kejadian seperti ini tidak aneh di Planet Kungfu.
Di akhir episode, muncullah Pendekar berkuda putih, bersorban putih. Seorang Pangeran dari Majapahit. Ia melerai perkelahian itu dan menanyakan duduk permasalahannya.
Ternyata gara gara facebook mereka ribut.
Dengan suara lantang pendekar itu mengatakan, "Facebook itu seperti pedang!" Ia lalu menghunus pedangnya. Mengkilap dan lancip. "Aku bisa mengiris bawang bombay dengan pedang ini. Aku juga bisa buat rakit. Dengan pedang ini aku juga bisa membunuh anak rusa, atau membunuh diriku sendiri." Ia melanjutkan, "Jadi kamu berdua benar. Tidak ada yang salah."
"Lalu facebook itu haram atau tidak Yang Mulia?" Serentak keduanya bertanya. Pendekar itu kelihatan bingung. Ia lalu membuka Kitab Perguruan Bukit Putih, ia membolak balik setiap halaman lalu berujar, "Tidak dibahas Facebook di kitab ini." Pangeran itu tidak bisa mengeluarkan fatwa yang ditunggu oleh Jimmy dan dokter gigi. Malah pergi berkelebat dan menghilang ke semak semak.
Keduanya masih diliputi tanda tanya, tetapi Jimmy mulai merasakan sakit giginya kambuh lagi. Obat biusnya telah tawar. Ia lalu merogoh mulutnya, dan betapa terkejutnya mendapati giginya yang sakit masih menempel di sana. Ternyata dokter itu salah pilih.
Jimmy langsung kecewa, tetapi dokter itu menjanjikan bonus gratis untuk mencabut dua gigi lagi. Gigi yang ada lobangnya atau lobang yang dikelilingi gigi.
Tags
